Konflik
didefinisikan sebagai proses yang dimulai ketika
satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau
akan mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang pihak pertama peduli.
Tahap / Proses
Konflik
Tahap 1 : Potensi Oposisi atau KeitdakcocokanKomunikasi : Kesulitan semantik, kesalahpahaman.
Tahap2 : Congnition and PersonalizationPerlu diingat dua poin . Pertama , Tahap II ini penting karena di situlah
masalah konflik cenderung didefinisikan, di mana para pihak memutuskan mengenai apa konflik tersebut. Titik kedua adalah bahwa emosi memainkan peran utama dalam membentuk persepsi. Emosi negatif memungkinkan kita untuk menyederhanakan masalah , kehilangan kepercayaan , dan menempatkan interpretasi negatif pada perilaku pihak lain .Sebaliknya , positif perasaan meningkatkan kecenderungan kita untuk melihat hubungan potensial di antara elemen-elemen dari suatu masalah, untuk mengambil pandangan yang lebih luas dari situasi, dan untuk mengembangkansolusi yang lebih inovatif
Tahap 3 : IntentionsIntentions: intervensi antara persepsi masyarakat dan emosi dan perilaku terbuka mereka. Niat ini merupakan keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu. Dengan menggunakan 2 dimensi – cooperativeness (sejauh mana salah 1 pihak berusaha untuk mengatasi permasalahan pihak lain) dan assertiveness (sejauh mana salah 1 pihak berusaha untuk mengatasi permasalahannya sendiri). Lima cara penanganan konflik antara lain :
1. Competingketika seseorang berusaha untuk memenuhi nya kepentingan, terlepas dari dampak pada pihak lain dalam konflik, ia bersaing. Contohnya ialahseseorang yang berniat untuk mencapai tujuan dengan mengorbankan tujuan lain, berusaha untuk meyakinkan yang lain bahwa kesimpulannya adalah benar dan kesimpulan orang lain keliru dan mencoba untuk membuat orang lain disalahkan untuk masalah tersebut.2. CollaboratingDengan berkolaborasi, niat dari para pihak adalah untuk memecahkan masalah dengan mengklarifikasi perbedaan daripada dengan mengakomodasi berbagai sudut pandang. Contoh: berusaha untuk mencapai win-win solution yang memungkinkan tujuan para pihak tercapai dan membuat kesimpulan dari penggabungan wawasan yang valid dari kedua pihak.3. AvoidingSeseorang yang sadar akan adanya konflik dan berusaha mundur atau menghindarinya. Contoh : menghindari orang yang berbeda oendapat dengan dirinya.4. AccommodatingKetika salah satu pihak berusaha untuk menenangkan lawan, pihak tersebut bersedia untuk menempatkan kepentingan lawan diatas kepentingannya. Dengan kata lain, dalam bertujuan untuk membangun relasi, salah satu pihak bersedia untuk berkorban.5. CompromisingDalam compromising, tidak ada pemenang maupun pihak yang kalah yang jelas. Bahkan, ada keinginan untuk menerima solusi yang memberikan kepuasan yang tidak seutuhnya kepada masing-masing pihak. Karakteristik tang membedakan pada kompromi adalah bahwa masing-masing pihak bermaksud untuk memberikan sesuatu. Contoh: ketersediaan untuk naiknya harga dari 2$/jam daripada menjadi 3$, untuk mengakui kesepakatan parsial dengan sudut pandang tertentu.
Tahap 4: BehaviorPerilaku konflik biasanya ialah upaya secara terbuka untuk melaksanakan niat masing-masing pihak. Tetapi perilaku tersebut memiliki kualitas stimulus yang terpisah dari niat.Tahap 5: OutcomesHasil fungsional dari konflik :- Peningkatan kinerja kelompok- Peningkatan kualitas keputusan- Stimulasi kreativitas dan inovasi- Dorongan dari minat dan keingintahuan- Penyediaan media untuk pemecahan masalah- Penciptaan lingkungan untuk evaluasi diri dan perubahanMenciptakan konflik fungsional- Perbedaan pendapat dan menghukum avoiders konflik.Hasil dari konflik disfungsional :- Pengembangan ketidakpuasan- Efektivitas kelompok berkurang- Keterbelakangan komunikasi- Mengurangi kekompakan kelompok- Pertikaian antara anggota kelompok mengatasi tujuan kelompok